Belajar, adalah sebuah tindakan atau kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang, baik muda maupun tua.
Arti kata dan makna belajar mengalami pergeseran dari masa ke masa.
Pada artikel ini akan membahas secara berseri tentang konsep belajar dari masa ke masa, yaitu
1. Era Klasik dan Filsafat (Pra-Abad ke 20
2. Era Behaviorisme (Awal Abad ke-20)
3. Era Kognitivisme (Pertengahan Abad ke-20)
4. Era Konstruktivisme (Akhir Abad ke-20)
5. Era Digital & Modern / Konektivisme (Abad ke-21)
Dan pada artikel ini, kita akan membicarakan tentang bagiamana belajar itu dari kisah Plato
Era Pertama, Era Yunani Kuno Abad Ke 5 sampai Abad Ke 4 SM
Pada era Yunani Kuno, Plato, seorang filsuf yang merupakan murid Socrates, mengembangkan pemikiran mengenai pengetahuan dan proses memperoleh pengetahuan. Salah satu gagasan pentingnya adalah teori recollection atau anamnesis, yaitu pandangan bahwa belajar berkaitan dengan proses mengingat kembali pengetahuan yang, menurut Plato, telah dikenal oleh jiwa sebelumnya.
Gagasan tersebut dapat ditemukan dalam dialog Meno dan Phaedo. Dalam dialog Meno, Socrates menggunakan serangkaian pertanyaan untuk membimbing seorang anak dalam menyelidiki persoalan geometri. Melalui contoh tersebut, Plato menghubungkan proses penyelidikan dan penalaran dengan kemungkinan ditemukannya kembali pengetahuan. Dengan demikian, belajar dalam perspektif ini tidak semata-mata dipahami sebagai penerimaan informasi dari luar, tetapi juga sebagai proses pencarian pengetahuan melalui aktivitas rasional.
Plato tidak menyusun klasifikasi proses belajar dalam bentuk kategori-kategori sebagaimana yang dikenal dalam teori pendidikan modern. Meskipun demikian, pemikirannya mengenai pengetahuan dan proses memperolehnya dapat dikaji melalui epistemologi, sedangkan gagasannya mengenai jiwa dan Bentuk-bentuk ideal (Forms) berkaitan dengan metafisika. Sementara itu, persoalan mengenai kebajikan dan kehidupan yang baik merupakan bagian penting dari pemikiran etikanya.
Pemikiran Plato juga perlu dipahami dalam konteks perkembangan filsafat dan kebudayaan Yunani Kuno. Pada masa tersebut, para filsuf memperdebatkan berbagai persoalan mendasar, termasuk hakikat realitas, sumber pengetahuan, jiwa, kebajikan, dan keberadaan yang ilahi. Namun, teori recollection Plato tidak dapat direduksi menjadi upaya membuktikan keberadaan Tuhan. Teori tersebut terutama berkaitan dengan penjelasan filosofis tentang hakikat pengetahuan dan hubungan antara jiwa, penalaran, serta Bentuk-bentuk ideal.
Oleh karena itu, pemikiran Plato memberikan salah satu landasan penting dalam sejarah epistemologi, khususnya mengenai hubungan antara pengetahuan dan aktivitas rasional. Meskipun teori recollection tidak dapat disamakan secara langsung dengan teori pembelajaran modern, gagasan tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengkaji secara kritis peran penalaran dalam proses memperoleh pengetahuan.
0 Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar.
Kirim Komentar